Pendosa

Posted on July 29th, 2008 in tentang seseorang

——————————- Original Message ——————————-
Subject: Dosa Gak yaaa….
From: “*****” <*****@******.com>
Date: Tue, July 29, 2008 1:09 am
To: ****@****.*****.com (gwe)
——————————————————————————–

It’s not over yet, bro….

Pendosa itu aku

Ahh..

jagan salahkan bintang dan bulan yang tak bersinar
Jangan pula kau kecam angin yg meniupkan nada-nada dingin nan sumbang soal kehidupan

Malam adalah saat dimana alam mencari keseimbangan
Memunculkan wajah murung para pendosa ajaran tuhan

Tidak..
Bodoh jika kau munuduh sang waktu yang bertanggung jawab atas nasib
Jalan itu kau yang memilih, jangan lantas kau dustai

Oh khalik penciptaku..
Masih adakah pagi untuknya?
Hangat dan terang penghapus deritanya

Dia datang padaku dengan airmata wahai tuhan yang kusembah
“perempuan harus mencari kebahagiannya sendiri” ungkapnya suatu waktu.

Lalu hatiku bertanya dimana kiranya kebahagiannya yang kau cari.
Adakah itu kau temukan padaku..?

Ahh..kenapa kini aku yang menghujat malam.
Mengutuki bintang dan bulan. Mengusir angin pembawa nada sumbang kehidupan.

Malam..jangan kau cepat menghilang.
Jika kau harus mengalah pada terang, bawa serta aku ke tempat kau bersemayam

Akulah pendosa itu tuhan..

Negara Kelima

Posted on July 5th, 2008 in Indonesia saja, buku bagus

BUBARKAN INDONESIA
BEBASKAN NUSANTARA
BENTUK NEGARA KELIMA!!!

Sudahkah kalimat di atas membuat kita merinding…?

Ke teman yang merekomendasikan buku ini gwe bilang: “tengs, ini buku lokal terbaik setelah saman dan larung-nya Ayu Utami”.

Ceritanya tentang upaya detsus anti teror menggagalkan upaya sebuah kelompok yang dicap sebagai teroris bernama Kelompok Patriotik Radikal (Keparad). Pembunuhan demi pembunuhan dan intrik berbalut tipu daya mengiringi jalan cerita buku ini.

Yang membedakannya adalah “tawaran” untuk melakukan perubahan besar (revolusi) terhadap negara ini. Tawaran yang diiringi kenyataan bahwa Indonesia ini memang sudah bobrok dan tinggal menunggu waktu para kaum mudanya bergerak menyelamatkan Nusantara.

Benarkah atlantis itu adalah kepulauan nusantara? Itulah salah satu hal menarik yang coba diangkat Es Ito dalam bukunya. Tapi terlepas dari masalah atlantis (padahal itu tidak bisa dilepaskan begitu saja karena menjadi salah satu bagian utama dari pusat cerita), buku ini tak cuma menawarkan sebuah kisah soal usaha menggagalkan pemberontakan dengan berbagai pelengkapnya.

Kita seperti disadarkan kembali akan keterpurukan bangsa ini jika dibandingkan dengan kejayaan bangsa ini di masa kerajaan. sebuah penelusuan untuk menyadarkan kita akan jati diri dan kebanggaan besar yang harusnya dimiliki Nusantara dan kita sebagai penjaganya.

Sangat menggugah, terutama buat anak muda yang punya idealisme dan “kesadaran” yang lebih murni. Intinya menawarkan obat untuk menyembuhkan sakit kronis yang diderita bangsa ini. Obat yang rasanya pait dan pastinya gak semua orang setuju mengkonsumsinya karena bernama revolusi.

Gwe gak tau deh kira-kira banyak ato sedikit orang Indonesia yang punya kegelisahan sama kaya gwe. (Sebenarnya belum layak disebut kegelisahan juga sih, soalnya kadang kalo udah cape mikir sendiri akhirnya gue lupain aja).

Tapi mikirin nasib dan masa depan bangsa ini emang bkin kita miris dan kita seperti dipaksa berpikir pesimis kalau sesuatu yang lebih baik bakal datang dan mengubah kondisi super-statis bangsa ini.

Nah, kegelisahan (kalo yang gwe rasain itu emang sebuah rasa gelisah ya) itu ditangkap dan diterjemahkan melalui kata-kata dengan sangat baik oleh Es Ito di bukunya Negara Kelima.

Membaca buku ini menimbulkan kebanggaan besar terhadap sebuah negara bernama Indonesia. Kebanggaan akan sebuah kejayaan masa lalu yang pernah dan entah apakah akan bisa kembali lagi.

BUBARKAN INDONESIA
BEBASKAN NUSANTARA
BENTUK NEGARA KELIMA!!!